Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

Wayangan Grebeg Makukuhan Usung Cerita Wahyu Cakraningrat

Selasa, 15 Mei 2018 Umum

TEMANGGUNG, Warga masyarakat Desa Kedu Kecamatan Kedu menggelar pentas hiburan kesenian wayang kulit semalam suntuk dalam rangka grebeg Makukuhan Senin malam (14/5/18) berlangsung di komplek makam Ki Ageng Makukuhan desa setempat. Pentas wayang  menyuguhkan cerita Wahyu Cakraningrat bersama  dalang Ki Sindu dari Desa Tening Kecamatan Wonoboyo.
    Pentas wayang diawali dengan penyerahan gunungan  oleh Penjabat Kepala Desa Kedu Agus Sulistiyo kepada  dalang ki Sindu disaksikan para pejabat terkait dan warga masarakat pecinta seni wayang kulit. Sebelumnya ketua panitia Tito Riyono dalam sambutannya mengatakan pentas wayang kulit merupakan agenda penutup  dari seluruh rangkaian acara  jelajah wisata budaya dan Grebeg Makukuhan tahun 2018. Diutarakan berbagai  kegiatan yang sudah dilaksanakan  diantaranya pengajian khoul akbar  dan  kirab budaya yang mengarak gunungan hasil bumi, replika flora fauna dan atraksi  kesenian tradisional. Acara tersebut dilaksanakan guna mengenang  jasa-jasa Ki Ageng Makukuhan  sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah Kedu sekaligus untuk menyambut datangnya  bulan Ramadan 1439 Hijriah.
    Dalang Ki Sindu  menuturkan  cerita  wayang yang dipentaskan mengisahkan raja-raja jagad pewayangan riuh memperebutkan Wahyu Cakraningrat, yang diyakini memberi kuasa atas wilayah timur hingga barat dan utara sampai selatan. Namun, tak mudah memperoleh wahyu sang batara, yang hanya akan turun ke manusia terpilih.  Kompetisi, strategi dan penaklukan ternyata bukan satu-satunya cara memperoleh Wahyu Cakraningrat. Dalang Ki Sindu  menceritakan Raden Samba yang mewarisi pengetahuan ramandanya Prabu Kresna, harus memperoleh Wahyu Cakraningrat itu dengan siasat apapun, namun bijaksana. Lain Raden Samba, lain pula cara Raden Lesmana Mandrakumara. Baginya, dengan cara bagaimanapun yang penting wahyu ini harus didapatkan, dengan catatan harus terkesan sportif.
    Bagaimana dengan Raden Abimanyu? Dia yang juga sempat merasakan bagaimana dulu ramanda dan paman-pamannya (Pandawa) dipecundangi, dikhianati dan dikucilkan oleh trah Kurawa, mencoba menyikapi hal ini dengan lebih berhati-hati. Pada akhirnya, tak satupun berhasil. Wahyu Cakraningrat hanya akan merasuk ke satria  yang bersih lahir batin, cerdas dan tahan godaan, berbudi luhur, dan kepekaan sosial tinggi.
    Camat Kedu  Agus Sri Sudaryanto  mengatakan  pentas wayang kulit  dengan mengusung  cerita filosofi Wahyu Cakraningrat  dinilai sangat pas mengingat tahun ini  merupakan  tahun politik. Sebagaimana diketahui pada tahun 2018  ini  ada agenda pemilihan kepala daerah yakni  Pilgub/Wagub Jateng dan Pilbup/Wabup Kabupaten Temanggung. Inti cerita Wahyu Cakraningrat bahwa perebutan kekuasaan sepenuhnya dilakukan sesuai etika, manusiawi dan dengan kesadaran mengedepankan kebersamaan perilaku, bukan perilaku zalim dan tak bermoral. Dengan demikian Pilkada bisa berjalan kondusif sukses tanpa ekses, masyarakat tetap rukun bersatu  dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. (Hms18/Edy Laks)

 

Berita Terkait