Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

Sekolah Lapang Iklim, Cara Mengantisipasi Cuaca Ekstrim

Senin, 11 Maret 2019 Pendidikan

TEMANGGUNG, Guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam memanfaatkan informasi iklim kerja guna mengantisipasi dampak fenomena iklim ekstrim, Stasiun Klimatologi Semarang BMKG, Senin (11/3) melakukan kegiatan Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tahap ketiga di Desa Tegalsari Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.
     Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq sangat mengapresiasi kegiatan tersebut, karena kondisi iklim ekstrim akan mempengaruhi produktifitas pertanian, khususnya banjir dan kekeringan yang kerap menimbulkan kerugian besar dalam sektor pertanian.
     “Dengan Sekolah Lapang Iklim ini, petani bias mengupayakan untuk mengurangi resiko kerugian apabila terjadi cuaca ekstrim”, ujar Bupati Temanggung.
     Iklim memiliki peran snagat penting dalam proses budidaya pertanian. Pertimbangnan iklim sebagai sumber daya dalam produktif pangan akan dapat mengingkatan produksi terutama terkait dengan tersediannya air dan radiasi matahari yang cukup.
     Oleh karena itu, Kepala Stasiun Klimatologi Semarang, Tuban Wiyoso, mengatakan bahwa Stasiun Klimatologi secara rutin membuat informasi iklim yang didesiminasikan melalui media, seperti website, email dan media sosial. Informasi yang diberikan adalah Analisa hujan bulanan dan dasarian, Prakiraan hujan Dasarian dan bulanan, Prakiraan musim baik musim hujan maupun musim kemarau, Prospek iklim 10 hari kedepan, Monitoring hari tanpa hujan, Kekeringan meteorologis, Analisis iklim ekstrim dan lainnya. Diharapkan informasi tersebut bermanfaat dalam mendukung kegiatan di sektor pertanian khususnya dalam menyusun kelender tanam.
     SLI merupakan salah satu upaya BMKG dalam meningkatkan literasi iklim dan desiminasi informasi iklim untuk pertanian, sejalan dengan Program Nawacita Pemerintah yaitu menujudkan kemandirian ekonomi. Kegiatan ini menggunakan metode belajar sambil praktek (learning by doing), dengan materi Pengenalan alat ukur cuaca dan iklim, Mengenal perbedaan cuaca dan iklim, Proses pembentukan hujan, Kadar air tanah, Pemahaman informasi prakiraan iklim dan musim, Pemanfaatan informasi iklim untuk pertanian, Penyimpangan iklim dan iklim ekstrim, Pengaruh iklim terhadap organism penganggu tanaman, Kalender tanam, Pranata mangsa, Analisis usaha tani dan teknik pengubinan.
    Sekolah ini dilaksanakan sebanyak 12 kali dengan interval; waktu 10 hari atau selama 4 bulan dalam satu musim tanam dan diikuti sebanyak 25 orang yang berasal dari Petani, Penyuluh Pertanian Lapangan dan Babinsa di Kecamatan Kedu. (HMS 19/Des)

Berita Terkait