Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

GURU, HARUS PROFESIONAL

Senin, 11 Januari 2010 Pendidikan
GURU, HARUS PROFESIONAL

TEMANGGUNG, Bupati Temanggung, Drs. Hasyim Afandi kembali menegaskan sebaiknya Guru menempatkan dirinya sebagai “Seniman mengajar”  bukan sekedar  “Tukang mendidik”. Menurutnya, ada perbedaan mendasar antara seorang seniman dengan seorang tukang. “Nilai kepuasan seorang Seniman ditentukan oleh capaian hasil karya, sebaliknya seorang Tukang hanya melihat pekerjaan dari ukuran waktu yang ditentukan”, kata Hasyim.
     “Jadikan siswa benar-benar paham, betul-betul mengerti materi pelajaran. Jangan membuat murid sekedar bisa mengerjakan soal. Sebagai contoh, dalam mempelajari proses tumbuhnya biji kacang hijau menjadi kecambah. Beri mereka (siswa) pemahaman, bagaimana proses biji kacang akan tumbuh menjadi kecambah. Faktor apa yang mendukung pertumbuhanya, biji yang bagaimana yang akan tumbuh baik dan bagaimana proses pertumbuhanya. Dengan pemahaman seperti itu, dimasa yang akan datang kita akan memiliki generasi yang inovatif, kreatif dan penuh daya saing, lanjut Bupati.
     Hal itu disampaikan Bupati pada pembukaan Konferensi XX PGRI Kabupaten Temanggung, Sabtu (9/1} di Aula Graha Bhumi Phala. Hasyim juga berharap, PGRI akan mampu meningkatkan profesionalisme para Guru. Termasuk meningkatkan  disiplin dan metode mengajar yang jelas. Jadikan Guru sebagai tenaga yang profesional dan bermartabat, mampu dan berkompeten, sesuai dengan bidangnya masing-masing.
     Mengenai rencana tunjangan penghasilan sebesar RP. 250.000,- bagi guru non sertifikasi, Bupati mempertanyakan apakah dana untuk membayar tunjangan itu sudah termasuk dalam DAU Kabupaten Temanggung Tahun 2010, atau akan ada tambahan DAU untuk realisasi tunjangan dimaksud. Kalau tidak, ini akan menjadi persoalan sendiri bagi Pemerintah Daerah. Saya berharap, Pemerintah Pusat memberikan tambahan Alokasi Dana untuk pembayaran tunjangan itu, harap Bupati.
     Dalam sambutan tertulisnya, Ketua PGRI Jawa Tengah Soebagyo Brotosedjati, M.Pd  mengatakan, Konferensi PGRI merupakan forum tertinggi organisasi ditingkat Kabupaten/Kota. PGRI harus terus menjaga komitmen  untuk menjadi organisasi perjuangan, profesi dan ketenagakerjaan yang bersifat unitaristis, independent dan non politik praktis, serta mendukung semangat reformasi sesuai dengan situasi dan kebijakan politik nasional serta akomodatif dan adaptif terhadap tuntutan yang berkembang. Organisasi profesi (PGRI) memiliki fungsi untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan dan pengabdian kepada masyarakat. “ sejumlah besar tuntutan PGRI bagi kesejahteraan Guru telah dipenuhi oleh Pemerintah. Kini saatnya PGRI membuktikan bahwa dengan kesejahteraan Guru akan meningkatkan profesionalisme dan peduli terhadap lingkungan’ katanya. (Hms10/EdSis)

Berita Terkait