Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

PROGRAM KELUARGA BERENCANA

Selasa, 14 April 2009 Kesehatan
TITIK BALIK PROGRAM KB

TEMANGGUNG, Pasca digulirkannya reformasi pada tahun 2004, pelaksanaan program KB mulai tersendat, bahkan menjadi program yang terpinggirkan. Padahal pada era orde baru, dunia pernah mengakui Indonesia sebagai salah satu negara yang sukses melaksanakan program Keluarga Berencana. Selama kurang lebih 35 tahun, terbukti  pelaksanaan program keluarga berencana tidak hanya mampu merubah struktur kependudukan, tetapi telah mampu merubah pandangan masyarakat terhadap anak.
     Titik balik (diterning point) ini terjadi, salah satu penyebabnya adalah melemahnya dukungan dan komitmen politis dari berbagai pihak termasuk diantaranya mitra kerja. Program KB tidak lagi menjadi program prioritas bagi Gubernur, Bupati, Camat dan Kades pada era otonomi daerah.
     Menurut Kepala BKKBN Propinsi Jawa Tengah, Dra. Sri Murtiningsih, MS pada saat seminar eksekutif bagi pimpinan wilayah kecamatan, pada era tahun 2000-an Temanggung pernah menjadi penyangga utama program KB dengan kontrasepsi spiral, MOW dan MOP. Ditingkat Jawa Tengah pada tahun 1971 kelahiran total dari pasangan usia subur mencapai 5,33 %. Kemudian berhasil ditekan menjadi 2,19% pada tahun 2005. Sayang, angka itu kemudian naik kembali menjadi 2,3% pada tahun 2007.  “tentu saja keadaan ini menjadi keprihatinan kita bersama. Perlu kerja keras, keuletan dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak untuk menekan angka kelahiran seperti yang diinginkan“, kata Murtiningsih sesaat setelah penandatanganan pinjam mobil penerangan dari BKKBN Propinsi Jawa Tengah ke Badan KB dan PP Kabupaten Temanggung.
     Sementara itu pada kesempatan yang sama Bupati Temanggung, Drs. Hasyim Afandi mengatakan, harus ada kesinambungan antara program peningkatan kesejahteraan masyarakat dan program keluarga berencana. Selama ini kita hanya fokus pada terciptanya kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pendapatan keluarga. padahal yang harus disadari adalah menyelaraskan antara pendapatan keluarga dengan jumlah anggota dalam keluarga. “Kemajuan ekonomi jangan sampai ditekan lagi oleh pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali”, terang Hasyim.(HMS/EdiSis.).

Berita Terkait