Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

PENCATATAN NIKAH MASSAL

Jumat, 09 Juli 2010 Sosial
21 PASANG NON MUSLIM IKUTI PENCATATAN NIKAH MASSAL

TEMANGGUNG, 21 pasang warga non muslim mengikuti pencatatan nikah massal yang diselenggarakan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Temanggung, (8/7).
     Pada tahun 2010, ini untuk pertama kalinya dilakukan penyelenggaraan acara tersebut dikarenakan masih banyaknya pasangan suami-istri yang belum tercatat perkawinannya walaupun sudah melakukan pemberkatan secara agama.
     “Pencatatan nikah massal sebagai bagian dari kepedulian dan tanggungjawab moral Pemerintah kabupaten Temangung untuk terus meminimalisir jumlah pasangan yang terpaksa hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah menurut Pemerintah/Negara karena dilatarbelakangi oleh berbagai kendala internal maupun eksternal, terutama dari aspek ekonomi”, Ujar  Wakil Bupati Temanggung Ir. H. Budiarto, MT.
     Peserta berasal dari kecamatan Kaloran 14  pasangan dengan 11 pasang umat Budha dan 3 pasang Kristen. Kecamatan Gemawang satu pasang beragama Budha, Kecamatan Temanggung  dua pasang beragam Kristen dan kecamatan Kandangan satu pasang beragama Katholik. Dari kecamatan Parakan dua pasang, yakni satu pasang beragama Katholik dan  satu pasang beragama Budha serta satu pasang beragama Budha dari kecamatan Bulu.
     Sebagai pasangan tertua adalah Sucipto Ridwan (70) dan Umiyati (63) yang beragama Kristen. Sedangkan pasangan Arnol Pangari (35) dan Sri Rahayu (21) sebagai pasangan termuda. Pada kesempatan itu juga dilakukan pengesahan 7 anak dari pasangan yang mengikuti pencatatan nikah massal.
     “Kegiatan pencatatan nikah ini dimaksudkan untuk memberikan kejelasan hukum formal dalam hubungan pernikahan dan status anak. Setelah dicatat mereka akan langsung mendapat akta perkawinan”, Ujar Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Temanggung, Drs. Eddy Winarso, MM.
     Ditambahkannya bahwa minat warga untuk mengikuti pencatatan nikah massal itu sebenarnya tinggi, namun pihaknya terpaksa membatasi mengingat dana yang tersedia/anggaran Rp 6 juta dari APBD 2010, sehingga dibatasi hanya 21 pasang saja. 
     Sebagai pasangan tertua, Sucipto Ridwan dan Umiyati menyambut gembira pencatatan nikah massal itu dan merasa lega karena perkawinan sudah sah berdasar legalitas negara. Sebelumnya keduanya menikah di gereja pada 2003, karena kendala biaya sehingga selama ini tidak dicatatkan. Mereka sama-sama menikah untuk yang kali kedua. (Hms10/Des).

Berita Terkait