Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

BUPATI TINJAU POSKO PENGUNGSIAN

Sabtu, 06 November 2010 Bencana
KEKURANGAN TENAGA RELAWAN

TEMANGGUNG, Merapi masih mengeluarkan awan panas dan bahkan semakin sering meletus, sehingga membuat warga sekitar masih tinggal di posko pengungsian. Karena itu, Bupati Temanggung, Hasyim Afandi bersama rombongan mengunjungi pengungsi merapi dan memberikan bantuan di Kecamatan Dukun Magelang (4/11).
     Bupati yang didampingi oleh Ibu Lies Hasyim Afandi, Kepala Dinas Sosial Temanggung, Kabag dan Kepala Kantor terkait memberikan bantuan tahap II, yang sebelumnya sudah diberikan oleh  Kabag Umum Setda Kabupaten Temanggung pada tanggal 30 Oktober 2010 ke posko induk di Rumah Dinas Bupati Magelang.
     Pemda Temanggung juga membuka posko dapur umum bencana merapi yang terletak di Dusun Wuni Desa Sewokan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Bupati mendatangi Balai Desa setempat yang digunakan untuk mengungsi warga sekitar sebanyak lebih dari 1.500 jiwa dan kedatangan rombongan diterima oleh Kepala Desa Sewokan, Anjar Setyorini.
     Di dalam posko yang didirikan Pemkab Temanggung terdapat 20 orang relawan dari TAGANA (Taruna Siaga Bencana) Temanggung dan ditambah 15 orang relawan dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Jakarta.
     Pada saat Bupati datang ke posko pengungsian, masih terjadi hujan abu dan air yang cukup deras dan pekat. Kondisi wilayah sangat memprihatinkan karena semua tanaman mati karena cukup tebalnya abu vulkanik merapi.
     Untuk bahan makanan bagi para pengungsi sudah cukup, tetapi masih kekurangan tenaga relawan untuk memasak sehingga bisa melayani dan menyiapkan makanan dengan baik. Demikian yang diungkapkan oleh Ny. Umi Lestari Nurjanah, salah satu relawan dari Dinas Sosial Temanggung.
     Selain berkunjung ke posko di Dusun Wuni, Bupati dan rombongan juga mendatangi posko yang ada di SDN Banyudono II di kampung Klatak, Dukun Kabupaten Magelang. Disana terdapat 310 jiwa pengungsi yang berasal 4 RT dari Dusun Diwak, Desa Sumber dan terdapat 20 orang relawan dari masyarakat sekitar, termasuk yang memasak dibantu oleh ibu-ibu warga sekitar.
     “Para pengungsi butuh kasur karena udaranya dingin dan selama 9 hari mengungsi mereka mulai terserang batuk pilek”, kata Kepala Dusun Diwak, Pawit Santoso. Ditambahkan salah satu relawan, Ambar S dari Petani andalan Magelang, mengatakan karena posko pengungsian dari puncak merapi berjarak kurang lebih 14 km, maka getaran dan gemuruh merapi di malam hari sangat terasa di tempat tersebut.
     Bantuan yang diberikan antara lain : susu anak/balita, minyak talon, susu kaleng, gula, teh, kopi, sabun bayi, bubur bayi, makanan anak-anak, pembalut wanita, pakaian dalam, beras dan pakaian pantas pakai. (hms10/des)


Berita Terkait