Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

BELUM SELURUH PEDAGANG TEMPATI PASAR DARURAT

Senin, 01 Juni 2009 Perekonomian
BELUM SELURUH PEDAGANG MENEMPATI PASAR DARURAT

TEMANGGUNG, Meski Pemerintah Kabupaten Temanggung  sudah membangun pasar darurat, paska terbakarnya pasar tradisional Kliwon  Temanggung setengah tahun lalu tepatnya tanggal 8 Desember 2008, namun belum seluruh pedagang mau menempati. Mereka  belum  memanfaatkan pasar darurat yang sudah disediakan pemerintah dengan alasan  belum memiliki modal untuk berjualan kembali maupun untuk biaya melengkapi sarana dan prasarana pasar.
     Dari sekitar  650 los dan kios yang sudah dibangun, baru sedikit  saja yang terisi, itupun kebanyakan untuk pedagang sayuran dan  buah-buahan serta sepatu sandal. Lebih dari separo  yang masih kosong belum digunakan berjualan sehingga terkesan mubazir. Pedagang mengaku pada saat terjadinya kebakaran pasar, seluruh dagangan ludes terbakar  dan kini tidak memiliki modal untuk kulakan barang dagangan. Disamping itu juga  tidak punya biaya untuk  melengkapi  sarana dan prasarana pasar darurat seperti  papan kayu dan etelase.
     Salah seorang pedagang, Widodo (40) th  mengaku  sebelum pasar terbakar ia sehari-hari membuka jasa reparasi dan berdagang barang-barang elektronik bekas. Praktis  baru bisa berjualan kembali  setelah pihak Pemkab membangun pasar darurat di kawasan Jl.  WR Supratman  sekitar 100 meter dari lokasi pasar yang terbakar. Dari 92 los yang ada baru dirinya yang memanfaatkan untuk berdagang. Los lainnya masih  kosong  melompong  belum ada pedagang lain yang memanfaatkan. Ia menuturkan, agar pasar darurat yang masih terbuka  siap ditempati sedikitnya dibutuhkan biaya Rp.2 juta untuk membeli papan, membuat etalase dan ongkos pengerjaannya. Selain itu juga dibutuhkan modal yang cukup besar untuk membeli peralatan reparasi maupun barang dagangan. Menurut dia, karena keterbatasan modal  iniliah yang menyebabkan pedagang  lain belum berjualan lagi meski sudah disediakan  pasar darurat secara gratis oleh Pemkab.
     “Pasar darurat ini masih terbuka belum ada sekatnya. Otomatis supaya bisa dipakai berjualan,  memerlukan papan kayu   untuk  sekat dan menutup los serta membuat etalase yang membutuhkan biaya Rp.2 juta. Belum untuk modal kulakan barang  yang juga membutuhkan biaya besar” ujarnya.
     Sementara itu Ketua Panitia Penataan Pasar Darurat, Asisten II Sekda Temanggung Ir. Bambang Dewantoro  mengaku Pemkab tidak bisa berbuat banyak terkait belum seluruh  bangunan pasar darurat  dimanfaatkan pedagang berjualan. Dia mengungkapkan  faktor yang menjadi penyebabnya, yakni kondisi ekonomi pedagang paska kebakaran  yang mengakibatkan tidak memiliki modal  untuk kulakan barang. Disisi lain karena pasar darurat masih terbuka, juga membutuhkan biaya untuk menambah sarana dan parasarana agar siap dugunakan berdagang. Namun demikian diharapkan, pedagang  berusaha bangkit  agar bisa berjualan lagi  di pasar darurat yang sudah disediakan  Pemkab secara gratis.
     “Karena kondisi ekonomi mereka para pedagang yang masih memprihatinkan, sehingga  masih banyak los maupun kios pasar darurat kosong belum dimanfaatkan untuk  berjualan. Diharapkan pedagang segera bangkit dan siap berjualan lagi“ jelasnya.
Masih banyaknya los dan kios pasar darurat yang kosong, dimanfaatkan  sejumlah warga untuk berjualan meski sebenarnya tidak memiliki hak menempati. Alasan mereka, daripada  mubazir kosong nganggur pasar darurat  digunakan untuk berjualan seperti makanan dan minuman.
     “Saya nekat berjualan di pasar darurat ini untuk menambah penghasilan keluarga. Hal ini dilakukan dengan alasan daripada kosong  tidak dimanfaatkan. Namun demikian manakala nanti, pedagang yang memiliki  hak akan menempati, siap mengosongkan” tutur Munisah  yang berjualan kupat tahu, lothek, es buah dan rujak.(Hms/EdyLaks).

Berita Terkait