Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

TRADISI SADRANAN

Sabtu, 08 Agustus 2009 Pariwisata
TRADISI SADRANAN JETIS SELOPAMPANG MERIAH
Ratusan Warga Bawa  Bucu Tenong dan Ingkung

TEMANGGUNG, Tradisi Sadranan di desa jetis Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung  yang dilaksanakan Jumat (7/8) berlangsung meriah, diikuti ratusan warga. Upacara ritual sadranan yang rutin diselenggarakan setahun sekali  pada setiap hari Jum’at  Pahing bulan Ruwah itu, ditandai dengan pesta nasi tenong dan ingkung ayam yang jumlahnya mencapai 500 buah.
     Sesepuh Desa Jetis Mukidi yang juga menjabat Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat (Kaur Kesra)  menjelaskan, tradisi sadranan  sudah  berlangsung turun temurun  sejak dulu kala. Sadranan diselenggarakan  sebagai ungkapan rasya syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa  atas  berkah, rejeki dan keselamatan yang telah diberikan selama ini, sehingga warga desa bisa hidup  tentram dan sejahtera. Selain itu  juga dimaksudkan untuk mengenang arwah para leluhur  desa  yang semasa hidupnya telah berjasa merintis  keberadaan desa.
     “Tradisi sadranan ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas limpahan  rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sekligus untuk mengenang Nyi Nondo yang diyakini sebagai  leluhur perintis desa“ ujarnya seraya menambahkan, tradisi sadaranan diawali dengan  pembacaan Tahlilan di komplek makam.
     Menurutnya, peserta sadranan tidak hanya diikuti warga Desa Jetis saja namun juga diikuti sejumlah warga luar desa yang mempunyai leluhur di Jetis. Mereka  sambil membawa nasi bucu tenong, ingkung ayam dan aneka jajanan  berdatangan di komplek makam desa yang dijadikan tempat ritual Sadranan.   Seluruh peserta dengan penuh khidmat  duduk berjajar mengikuti seluruh prosesi ritual yang ditandai  berdoa bersama, dipimpin ulama  desa. Seusai doa untuk memohon keselamatan dan limpahan rejeki dari yang maha kuasa,  makanan yang mereka bawa kemudian dinikmati sebagai ungkapan syukur.
     Sementara itu sembari  menikmati makanan,  beberapa petugas  mengambil potongan nasi bucu berikut sebagian lauk pauk dan jajanan untuk dikumpulkan . Hasil makanan yang dikumpulkan, setelah dikemas dalam  ratusan kantong plastik, kemudian dibagikan kepada seluruh peserta dan tamu undangan sebagai nasi berkat  untuk dibawa pulang.
     “Dengan pembagian  nasi berkat ini,  sebagai tanda  bahwa seluruh prosesi ritual sadranan  telah selesai. Warga dengan penuh rasa  bahagia meninggalkan komplek makam  pulang  ke rumah masing-masing guna beraktifitas  kembali sebagaimana biasanya“ tandasnya.
     Kepala Desa Jetis , Sudibyo, SE mengatakan, tradisi sadranan  akan terus dilestarikan  di masa-masa mendatang sebagai warisan budaya dari nenek moyang. Diutarakan, melalui penyelenggaraan ritual sadranan  selain dimanfaatkan untuk   doa bersama  dan ungkapan syukur, juga sekaligus sebagai wahana mempererat tali persaudaraan sesama warga. (Hms09/Edy Laks).

Berita Terkait