Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

SADRANAN JETIS SELOPAMPANG KHIDMAT, DOAKAN LELUHUR

Sabtu, 07 Juli 2012 Umum
TEMANGGUNG, Tradisi Sadranan di desa jetis Kecamatan Selopampang Kabupaten Temanggung  yang dilaksanakan Jumat Legi (6/7) berlangsung khidmat, diikuti ratusan warga. Upacara ritual sadranan yang rutin diselenggarakan setahun sekali  pada setiap hari Jumat  Legi bulan Syaban itu, ditandai dengan pesta nasi tenong dan ingkung ayam yang jumlahnya mencapai 500an buah.
     Sesepuh Desa Jetis Kyai Jumali menjelaskan, tradisi sadranan  sudah  berlangsung turun temurun  sejak dulu kala. Sadranan diselenggarakan  sebagai ungkapan rasya syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa  atas  berkah, rejeki dan keselamatan yang telah diberikan selama ini, sehingga warga desa bisa hidup  tentram dan sejahtera. Selain itu  juga dimaksudkan untuk mengenang arwah para leluhur  desa  yang semasa hidupnya telah berjasa merintis  keberadaan desa.
     Tradisi sadranan ini dimaksudkan sebagai ungkapan syukur atas limpahan  rejeki dari Tuhan Yang Maha Esa, sekligus untuk mengenang dan mendoakan  Nyi Nondo yang diyakini sebagai  leluhur perintis desa ujarnya seraya menambahkan, tradisi sadaranan diawali dengan  pembacaan Tahlilan di komplek makam.
     Menurutnya, peserta sadranan tidak hanya diikuti warga Desa Jetis saja namun juga diikuti sejumlah warga luar desa yang mempunyai leluhur di Jetis. Mereka  membawa nasi bucu tenong, ingkung ayam dan aneka jajanan  berkumpul di komplek makam desa yang dijadikan tempat ritual Sadranan.   Seluruh peserta berdoa bersama, dipimpin ulama  desa KH Zaenal Arifin. Seusai doa  dilanjutkan makan bersama.
     Sementara itu sejumlah petugas  mengambil potongan nasi bucu berikut sebagian lauk pauk dan jajanan untuk dikumpulkan . Setelah dikemas dalam  ratusan kantong plastik,makanan tersebut dibagikan kepada seluruh peserta dan tamu undangan sebagai nasi berkat  untuk dibawa pulang, menandai berakhirnya seluruh acara ritual sadran.
     Kepala Desa Jetis, Sudibyo, SE mengatakan, tradisi sadranan  akan terus dilestarikan  di masa-masa mendatang sebagai warisan budaya dari nenek moyang. Diutarakan, melalui penyelenggaraan ritual sadranan  selain dimanfaatkan untuk   doa bersama  dan ungkapan syukur, juga sekaligus sebagai wahana mempererat tali silaturahmi antar warga. (Hms12/Edy Laks).

Berita Terkait