Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

BUPATI DAN SENIMAN BAHAS CARA PERTUNJUKKAN DI ERA NEW NORMAL

Kamis, 25 Juni 2020 Kesenian

Festival Terbaik Adalah yang Membuat Penonton Nyaman
Temanggung-GTPP-HMS, Selama masa pandemi Covid-19, praktis para seniman di Kabupaten Temanggung tidak bisa melaksanakan aktivitasnya seperti saat keadaan normal. Tidak ada lagi pentas keliling bagi seniman jaran kepang, yang selama ini menjadi andalan Temanggung, termasuk jenis kesenian lain yang sangat banyak jumlahnya di lereng Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau.
     Oleh karena itu, Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq menyambangi para seniman di Desa Candisari, Kecamatan Bansari. Hal itu dilakukan guna menerima masukan dari para seniman, sebagai sambung rasa di ruang aula desa setempat, dengan menerapkan protokol kesehatan. Pada kesempatan itu kepada para seniman bupati juga memberikan banyak saran bagaimana warga desa membuat sebuah event yang profesional jika kelak nanti pandemi telah berlalu.
     Rohim salah satu seniman jaran kepang dari kelompok Turangga Muda Candi (TMC), mengemukakan kekecewaannya karena rencana pentas gagal lantaran hantaman badai pandemi corona. Sebelumnya TMC sudah pentas 10 kali dalam rangkaian acaranya namun harus berhenti.
     "Kami mau bertanya kapan bisa pentas lagi ? Lalu ke depan jika keadaan sudah normal apakah pentas hanya dilakukan di Kota Temanggung saja, sebab kami di Candisari berharap bisa jadi tuan rumah festival,"katanya, Selasa (23/6/2020).
     Bupati meminta kesabaran para seniman agar pandemi cepat berlalu sehingga keadaan bisa kembali normal. Saat ini di Kabupaten Temanggung sudah masuk pada tahap pendisiplinan warga, dan jika itu bisa ditegakkan maka warga bisa hidup di era new normal. Namun demikian, para seniman diminta untuk tetap bersemangat latihan, tapi tetap mengedepankan jaga jarak, sehingga jika keadaan sudah normal bisa pentas.
     Sekarang ini pemerintah sedang menyiapkan kehidupan baru menuju new normal, tapi untuk saat ini di Temanggung belum bisa new normal, karena kasusnya masih banyak. Penularan dari transmisi lokal antar penduduk masih banyak terjadi sehingga saat ini Kabupaten Temanggung memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat.
     "Jika keadaan sudah normal dalam arti di era kehidupan baru sudah bisa pentas seni-budaya, jangan dibayangkan bisa seperti sebelumnya. Misalnya, sebelumnya jaran kepang digelar di halaman rumah, ke depan digelar di lapangan yang lebih luas biar tidak ada kerumunan. Nanti akan ada petunjuk lebih lanjut bagaimana pertunjukkan-pertunjukkan seni yang aman dari penyebaran virus corona," katanya.
     Bupati Khadziq sendiri mengemukakan bahwa sebenarnya sejak awal menjabat sudah berkomitmen menjadikan Temanggung sebagai kota festival. Tahun 2020 sebenarnya sudah direncanakan ada berbagai festival sejak Festival Sindoro Sumbing (FSS), Jifolk, Grebek Parakan, Temanggung Night Carnival. Kemudian yang sudah direncanakan lagi seharusnya pada akhir April ada festival wiwit mbako dengan konsep pertunjukkan jaran kepang selama sepekan di alun-alun dan penutupan dilakukan kembul bujana makan ingkung bersama-sama. Namun rencana itu tidak terlaksana karena ada corona.
     "Kita berharap 3 Juli PKM diakhiri setelah itu butuh 2-3 minggu untuk mendisiplinkan warga sebagai persiapan menuju new normal, harapannya minggu ketiga bulan Juli kita sudah bisa menerapkan new normal itu kalau masyarakat benar-benar bisa disiplin sehingga penularan bisa terkendali. Jadi belum pasti, masyarakatnya bisa bareng-bareng disiplin atau tidak, pemerintahnya bekerja atau tidak harus dilihat, termasuk gugus tugas kecamatan dan desa harus mendisiplinkan warganya," katanya.
     Soal festival seni di Kabupaten Temanggung memang pada tahun 2020 ini semua hilang, namun harapannya di tahun depan semua bisa dibuat lagi. Namun demikian, Bupati berpesan jika para seniman ingin membuat pertunjukkan harus profesional, sebab festival yang bisa bertahan adalah festival terbaik dengan animo penonton baik serta penyelenggara eventnya yang juga baik. Penilai baik atau tidaknya festival adalah penonton, dari segi materi dan penyelenggaraan eventnya.
     Dalam penyelenggaraan sebuah event tidak hanya pertunjukannya saja, tapi faktor pendukung perlu dipikirkan seperti penyediaan toilet/WC, bagaimana jika ada penyediaan home stay, penataan parkir aman nyaman, ada sajian makanan. Jika faktor pendukung tidak bisa dipenuhi maka bisa mengecewakan penonton dan tidak menutup kemungkinan akan kapok untuk kembali datang jika event itu diselenggarakan lagi. Lalu ada saling mengunjungi antar kelompok kesenian sebab dengan saling menonton maka kreativitasnya akan bertambah.
     Untuk mewujudkan penyelenggaraan event yang profesional Pemkab Temanggung dalam perencanaan sebelumnya juga sudah akan membuat klinik event. Penyelenggara kesenian di setiap kampung akan dilatih cara membuat event yang membuat penonton menjadi betah. Namun sama dengan yang lain program ini tertunda karena corona.
     "Festival terbaik adalah festival yang membuat penonton merasa nyaman, misal di Candisari ada event nasional yang nonton orang Jakarta, Semarang ternyata WC nya bau bisa kapok, kalau jalannya macet bisa males. Jadi bukan sekedar njogete, tabuhane tapi juga keamanan, kenyamanan. Untuk mengetahui hal seperti itu bisa dicoba misal ada jaran kepang nanti wawancara 10 penonton dari luar desa apa keluhannya sehingga bisa untuk bahan koreksi," katanya.
     Kepala Desa Candisari Ceper Tarwidi meminta seluruh seniman di wilayahnya dan warga pada umumnya untuk tetap melaksanakan petunjuk dari pemerintah untuk melaksanakan protokol kesehatan. Diyakininya kekecewaan masyarakat itu pasti ada, tapi semoga dengan adanya dialog bagaiamana tata cara melakukan pentas kesenian di era baru nanti diharapkan bisa sedikit mengobati kekecewaan.(rad-g-juni)(Hms20)

 

Berita Terkait