Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

GUBERNUR JATENG, PETANI DIMINTA TANAM KOPI

Jumat, 05 Juni 2009 Pertanian dan Perkebunan
Gubernur Jateng Bibit Waluyo ;
Tembakau Tidak Lagi Bisa Diandalkan, Petani Diminta Tanam Kopi

TEMANGGUNG, Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta para petani tidak terus menerus berprinsip bercocok tanam tembakau dilahannya seperti yang terjadi selama ini. Sebab, selain tanaman tembakau berpotensi menimbulkan kerusakan lahan, cuaca saat ini juga  kurang mendukung lagi bagi pengembangan tanaman tembakau. Dengan demikain  tembakau tidak lagi bisa diandalkan sebagai tanaman primadona  yang menjanjikan keuntungan besar seperti dulu.
     Permintaan itu disampaikan Gubernur pada acara ''Panen Kopi Arabica Kate '' di lahan warga Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung Rabu kemarin (3/6). Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Siswanto, pejabat dari Perhutani, Bank Jateng, Muspida, Kepala Dinas/Instansi terkait di Pemkab, para camat, perwakilan kelompok tani kecamatan-kecamatan di Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, serta warga Kecamatan Kledung.
     ''Pola tanam dari tembakau beralih ke kopi ini sangat baik, selain produknya menjanjikan tambahan penghasilan yang dapat diharapkan petani, juga petani telah ikut berusaha untuk menjaga alam. Pasti, selanjutnya alam pun akan bersahabat dengan petani,''tutur dia.
     Menurutnya, apabila petani belum bisa menanami semua lahannya dengan kopi, paling tidak mereka bisa menanami di bagian terasering-terasering tanahnya.Hal ini  sekaligus sebagai upaya untuk menguatkan lahan sehingga tidak mudah erosi Diutarakan, Pemerintah Provinsi sangat berharap budidaya tanaman kopi Arabica kate khususnya bisa dikembangkan lebih luas utamanya dilahan pegunungan .
     Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi mengungkapkan, erosi yang terjadi di kawasan Gunung Sindoro, Sumbing dan Perahu wilayah Kabupaten Temanggung, saat ini telah mencapai 60 ton/hektare untuk setiap tahunnya. Jumlah tersebut telah melampaui ambang batas dan membahayakan lingkungan. Karena itu, perlu perbaikan lahan, antara lain dengan mengembangkan tanaman kopi untuk menggantikan tembakau.
     ''Bahkan menurut penelitian mahasiswa paska sarjana UGM, kalau tidak ada upaya apapun untuk konservasi lahan, kawasan Sindoro, Sumbing dan Perahu akan tandus, seperti pegunungan di Wonosari,''katanya seraya menambahkan,  upaya konservasi telah dilakukan sejak pemerintahan bupati-bupati sebelumnya, akan tetapi belum mengalami keberhasilan.
     Belum berhasilnya upaya konservasi ujarnya, lantaran desakan kebutuhan ekonomi, menjadikan warga setempat merusak tanaman yang sebetulnya berfungsi untuk menjaga konservasi tanah atau penahan erosi itu. Dulu pernah dikembangkan tanaman resede tetapi karena desakkan ekonomi, daunnya dipangkasi untuk bahan makanan ternak, sedangkan pohonnya ditebang untuk dijual.
     “ Belajar dari pengalaman itu, kemudian dikembangkan pertanian campuran yakni usaha pertanian yang di satu sisi tetap menghasilkan pendapatan bagi petani, dan di sisi lain dapat menjaga konservasi lingkungan. Bentuknya ialah lahan ditanami tanaman kopi sebagai penjaga dari erosi, dan di sela-selanya ditanami tanaman sayur-sayuran.Hingga saat ini, dari 285 hektare lahan pertanian di Desa Tlahap, yang telah ditanami kopi arabica kate sebanyak 182 hektare dan melibatkan 490 orang petani,'' tandasnya (Hms/ Edy Laks)    
   

Berita Terkait