Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

SPIRIT MELESTARIKAN ALAM, PUNYA TARIAN KHUSUS UNTUK RITUAL

Senin, 10 Maret 2014 Umum
TEMANGGUNG, Tidak seperti umumnya ritual nyadran atau merti dusun lainnya yang digelar di makam sesepuh, warga Desa Jombor, Kecamatan Jumo, menggelar tradisi tersebut di hutan milik Perum Perhutani yang dipercaya menyimpan sejarah mistis yang kuat. Tidak hanya itu, warga juga menanam pohon pada ritual tersebut untuk melestarikan alam selain berbagi makanan dan hasil bumi.
     Peluh bercucuran dari dahi ratusan warga Desa Jombor, Kecamatan Jumo, setelah mendaki bukit setinggi 400 meter dengan permukaan jalan tanah licin. Mendaki perbukitan bagi warga sekitar mungkin sudah menjadi kebiasaan karena kehidupan mereka berada pada daerah yang kontur tanahnya demikian, namun beban makanan dan tumpeng yang mereka bawa cukup membuat nafas terengah-engah sesampai di puncak bukit milik Perum Perhutani.
     Kendati demikian, tidak ada keluhan sama sekali, bahkan semangat terpancar jelas setelah tiba disebuah padepokan kecil yang berada di puncak perbukitan tersebut. Sebuah bangunan berukuran tidak terlalu besar dengan pintu kayu model kupu tarung. Bagian dalam tampak gundukan tanah tinggi yang dikelilingi kelambu putih. Tempat yang konon merupakan pertapaan Ki Ageng Lintang Trenggono Kusumo yang dipercaya warga sekitar sebagai orang yang babat alas Pulau Jawa pra-kerajaan.
     Setiba ditempat itu, beberapa pemuka masyarakat yang mengenakan beskap lengkap dengan blangkon khas Kraton Ngayoyakarta Hadiningrat,  mengambil tempat pada bagian depan, sementara ratusan warga lain menyiapkan tempat sendiri-sendiri di bawah belasan pohon tua yang memayungi sekitaran kawasan pertapaan ini. Mereka juga menggelar daun pisang untuk tempat tumpeng dan bekal nasi yang dibawa dari rumah.
     “Ritual ini adalah ritual untuk wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua nikmat yang telah diberikan. Disertai harapan bahwa hasil panen kami akan melimpah pada masa mendatang. Karena warga kami agamanya berbeda-beda, kami berikan kebebasan saat doa bersama,” kata Kepala Desa Jombor, Kecamatan Jumo, Marju.
     Usai doa bersama digelar, satu persatu warga membuka perbekalan makanan untuk saling berbagi dan makan bersama dikompleks tersebut. Makan bersama ini adalah bentuk solidaritas antar warga agar saling berbagi dan kerjasama antara satu dengan yang lainnya. “Sedangkan tumpeng rombyong berisi hasil bumi yang dibuat secara swadaya. Tumpeng rombyong menjadi rebutan karena ada berkahnya,” tambahnya.
     Juru Kunci Pertapaan, Ki Suparman, mengatakan, Ki Ageng Lintang Trenggono Kusumo, merupakan orang yang memiiki kesaktian linuwih. Warga mempercayai bahwa Ki Ageng Lintang adalah nenek moyang mereka dan untuk menghormatinya selain berdoa juga digelar pentas seni.
     “Kami menampilkan wayang dan jaran kepang. Tetapi jaran kepang kami beda dengan yang lain karena sudah turun temurun dan memiliki kekhasan gerakan. Gerakan kami lembut dan membuat penonton terharu, bahkan sampai banyak penonton yang ikut kesurupan,” katanya.
     Tampilan jaran kepang sendiri digelar ditengah perkampungan sebelum dilanjutkan dengan pentas wayang kulit untuk menghibur warga desa. Konon, tarian jaran kepang dari desa ini merupakan tarian dengan gerakan yang dibimbing kekuatan magis sehingga kekhasan gerak tarian memiliki keunggulan tersendiri. “Tidak brangasan dan gerakan kaku, tetapi sangat lembut dan mengharukan,” tambahnya.
     Salah seorang sesepuh desa, Suwanto, mengatakan, selain ritual tersebut juga terdapat ritual penanaman pohon. Pohon yang ditanam adalah pohon jambu yang diyakini merupakan pohon kesayangan Ki Ageng Lintang Trenggono. “Positifnya adalah tanaman jambu ini adalah tanaman keras dan itu melestarikan lingkungan,” tandasnya.(Hms14/Paul)

Berita Terkait