Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

RITUAL RIYAYA UNDUH-UNDUH SEBAGAI TRADISI PANEN RAYA

Senin, 11 Agustus 2014 Umum
TEMANGGUNG, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Jumo, di Desa Jumo, Kecamatan Jumo menggelar tradisi Ritual Riyaya Unduh-unduh, sebagai menjelang panen raya hasil bumi, sebagai dengan tanda syukur pada Tuhan yang kuasa, Minggu (10/8).
     Pimpinan GKJ Jumo, Pendeta Yohari mengatakan tidak hanya jemaat GKJ Jumo yang mengikuti ritual tahunan tersebut. Masyarakat luas, bahkan lintas agama diperbolehkan memeriahkannya.
     "Ini merupakan tradisi tahunan yang kami selenggarakan sebagai bentuk rasa syukur kami atas hasil bumi yang melimpah yang Tuhan limpahkan kepada kami. Dengan kami bersyukur, tentu Tuhan akan memberikan kami lebih kedepannya," katanya.
     Tradisi tahunan ini, antara lain dengan mengarak tumpeng rombyong dari depan gereja menyusuri sejumlah ruas jalan keliling Kecamatan Jumo dan kembali ke tempat semula, untuk  dibagikan pada warga.
     Pembagian berjalan lancar, sebab sebelumnya warga diberi karet gelang berbagai warna. Karet gelang tersebut menjadi tiket untuk mendapatkan hasil bumi yang terangkai dalam tumpeng rombyong. Maka, karet gelang yang disiapkan menjadi bahan rebutan.
     "Pengambilannya harus tertib agar semua tumpeng tidak rusak, agar buah-buahan dan sayuran tidak terbuang sia-sia," katanya.
     Sebelumnya, tumpeng ini didoakan oleh tokoh agama setempat. Keliling ini dimaksudkan sebagai bentuk ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama mensyukuri berkah Tuhan melalui hasil panen yang diberikan.
     "Kita ajak masyarakat untuk bersyukur bersama," katanya sembari mengemukakan tumpeng raksasa sendiri tersusun dari hasil bumi berupa sayur mayur, buah-buahan, daun tembakau serta beragam hasil bumi lainnya.
     Turut memeriahkan pada ritual tersebut adalah pementasan kelompok kesenian yang ditampilkan oleh anak-anak dan remaja GKJ serta tari kuda lumping khas Temanggungan yang disajikan kelompok seni dari Desa Jombor, Kecamatan Jumo.
     Jemaat GKJ Jumo, Titik Winarti (45) menambahkan, tradisi tersebut merupakan ungkapan syukur yang harus digelar sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan.
     Menurut caleg terpilih dari PDIP ini, ucapan syukur tersebut tidak hanya dilakukan oleh warga nasrani, namun juga seluruh agama. "Saya yakin semua agama mengajarkan tentang berterima kasih kepada Tuhan. Jadi kami mengajak kepada mereka agar bersama-sama mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan," katanya. (Hms14/Paul).

Berita Terkait