Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

PETANI TEMBAKAU WAJIB DILINDUNGI

Selasa, 02 Mei 2017 Umum

TEMANGGUNG, Pemerintah berkewajiab melindungi nasib para petani temabakau dengan membuat reguli yang berpihak kepada petani. Dengan demikian para petani mendapat jaminan bisa tetap melakukan bididaya usaha pertanian tembakau sebagai gantungan hidup .
     Hal itu disampaikan Gubernur  Jawa Tengah  Ganjar Pranowo disela-sela meresmikan kampung KB di Desa Wonosari Kecamatan Bulu  Kamis (27/4) Pihaknya bisa memahami keresahan kalangan petani Tembakau yang belakangan  Indonesia dibanjiri tembakau import sehingga mengancam tembakau lokal. Di Jateng beberapa kabupatan menjadi daerah penghasil tembakau seperti Temanggung. Oleh karena itu, Pemprov terus mengharapkan pemerintah pusat memperhatian nasib petani dengan mengeluarkan regulasi yang berpihak pada petani dan  menguntungkan semua pihak.
     Pada kesempatan itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Agus Parmuji mengatakan Pemerintah harus melindungi tembakau lokal dengan membatasi impor tembakau. Pemerintah harus segera mengambil langkah nyata guna melindungi tembakau lokal, seperti pembatasan impor serta pengenaan bea masuk yang lebih tinggi. Selama ini bea impor yang dikenakan baru sebesar lima persen. Agus menilai jumlah ini masih rendah dan idealnya bea impor pada kisaran angka 40 persen.
     Oleh karena itu APTI  berharap Pak Gubernur bisa membantu mengendalikan impor tembakau. Apalagi, saat ini masih hujan, semoga saat panen sudah memasuki musim kemarau dan petani bisa meraih hasil maksimal.
     Menurut dia, ada sembilan faktor yang membuat petani lokal rela mati-matian memperjuangkan penolakan impor tembakau, yakni melindungi produk tembakau dalam negeri, mencegah komoditas penting jatuh ke tangan negara lain, potensi Indonesia memproduksi sendiri masih terbuka, "multiplier effect" untuk menumbuhkan perekonomian. Alasan penolakan petani lokal terhadap membanjirnya tembakau impor asal negara Tiongkok, Amerika Serikat, India, Turki, dan Zimbabwe ke Indonesia, terutama karena kekhawatiran atas minimnya serapan tembakau lokal oleh pabrikan. (Hms17/Edy Laks)

Berita Terkait