Selamat Datang di Website Resmi Pemerintah Kabupaten Temanggung

Hasil Sensus Penduduk Jadi Dasar Pembangunan

Rabu, 24 November 2010 Bencana
Hasil Sensus Penduduk Jadi Dasar Pembangunan

TEMANGGUNG-Untuk meningkatkan efektivitas dalam pembangunan bidang sosial kemasyarakat, Pemerintah Daerah harus menjadikan hasil sensus penduduk (SP) 2010 sebagai salah satu rujukan data. Pasalnya, pembangunan yang tidak berdasarkan data kependudukan akan berdampak pada tidak tepat sasaran hasil pembangunan serta ketidakmerataan kesejahteraan. Dari data SP 2010, diketahui langkah strategis yang harus ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung paling prioritas adalah pengentasan angka kemiskinan yang masih terbilang tinggi.
     Hal itu disampaikan Prof Dr Tajudin Noer Effendi MA guru besar Universitas Gajah Mada Yogyakarta dalam acara  publisitas hasil Sensus Penduduk  tahun 2010 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung di Gedung Loka Bhakti Praja Setda kab Temanggung Selasa siang kemarin (23/11).  Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Ir. Budiarto, MT dan Kepala SKPD serta Camat. 
     Dalam makalahnya  yang berjudul  Data Statistik dan Informasi Kependudukan; sebagai dasar Pertimbangan Penyusunan Kebijakan Perbaikan Kesejahteraan, Tajudin mengatakan hasil SP 2010, Pemkab harus memprioritaskan pembangunannya dengan sasaran pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta peningkatan pendidikan.
     Selama tiga dekade, katanya, penduduk kabupaten Temanggung yang bekerja di sektor pertanian terus menunjukan penurunan. Pada 1971 jumlahnya 68,6 persen turun menjadi 66,3 persen pada 1990. Penuruna itu diikuti dengan kenaikan sedikit yang bekerja di sektor industri dan angkutan. Angka itu mengindikasikan bahwa dalam sensus 1990 tercatat angkatan kerja Kabupaten Temanggung beralih dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. "Pergesaran ini jelas ada kaitan dengan kegiatan pembangunan pada saat itu," lanjutnya.
     Namun, pekerja di sektor pertanian kembali meningkat menjadi 74,6 persen pada 2000. Kenaikan ini diduga akibat terjadinya krisis ekonomi pada 1997 yang saat itu banyak kegiatan industri tidak mampu beroperasi sehingga banyak mengurangi pekerja. Pada 1990 pekerja industri 8,5 persen menurun menjadi 3,2 persen pada 2000. "Sangat mungkin sebagian pekerja industri yang kehilangan pekerjaan untuk dapat bertahan hidup kembali bekerja di sektor pentanian atau usaha sendiri disektor jasa," tambahnya.
     Dengan perbandingan data yang seperti itu, lanjutnya, seharusnya Pemkab menjadikan hasil SP 2010 sebagai dasar pengambilan kebijakan. Adanya peningkatan angka pertanian yang kurang begitu memacu kesejahteraan masyarakat, seharusnya Pemkab lebih dapat memacu sektor industri dan jasa serta mengembalikan posisi angka struktur penduduk berdasarkan pekerjaan seperti dua dekade sebelumnya, atau bahkan ditingkatkan lagi.
     Wakil Bupati Temanggung, Budiarto, menjelaskan, pihaknya berharap dari dalam tiga tahun kedepan rekomendasi dari hasil SP2010, khususnya dalam pengentasan kemiskinan dapat dilakukan dengan hasil yang optimal. Pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendidikan merupakan prioritas pembangunannya. "Itu salah satu program priotas kami agar angka kemiskinan dapat dientaskan," tandasnya.
     Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung, Drs. Waziruddin menjelaskan     sensus penduduk 2010 dilakukan mulai tanggal 1 s/d 31 Mei 2010. Sasaran terhadap semua penduduk yang tinggal di seluruh wilayah Indonesia, baik WNI maupun WNA, termasuk anggota korps diplomatik Indonesia di luar negeri. Sementara untuk sasaran sensus rumah tangga terdiri atas semua yang tingal di rumah kita, makan minum bersama dari dapur yang sama, ber-KTP atau tidak, masuk dalam KK atau tidak semua disensus. Sedangkan pertanyaan yang disampaikan petugas sensus meliputi data individu dan data perumahan.
     Hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 menunjukkan wilayah kecamatan Temanggung merupakan daerah dengan penduduk paling banyak. Dari hasil tersebut juga menunjukkan Kecamatan Selopampang menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit. Berdasarkan hasil SP tersebut, jumlah penduduk di Kabupaten Temanggung mencapai 708.109 jiwa yang terdiri dari 355.568 laki-laki dan 352.541 perempuan.
     Penyebaran penduduk Kabupaten Temanggung meliputi 20 kecamatan. Kecamatan Temanggung yang menjadi kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dihuni oleh 75.761 jiwa atau sekitar 10,70 persen penduduk Kabupaten Temanggung. Sementara itu, sex ratio terbesar adalah 103, terdapat di beberapa Kecamatan yaitu Kledung, Bansari, Bulu, Tretep dan yang terkecil adalah Kecamatan Temanggung yaitu sebesar 97,6. “Artinya di Kecamatan Temanggung jumlah penduduk perempuan sektiar 2,4 persen lebih banyak disbanding jumlah penduduk laki-laki,” ujarnya.
     Laju perkembangan penduduk, Kabupaten Temanggung selama 10 tahun terakhir sekitar 0,68 persen, laju pertumbuhan penduduk tertinggi Kecamatan Kranggan, yakni 1,17 persen pertahun. Sedangkan yang terrendah Kecamatan Kledung, tercatat sekitar 0,17 persen pertahun.
     Hal yang berbeda adalah adanya wilayah yang jumlah penduduknya menurun dibanding tahun 2000, yakni Kecamatan Kledung. Hasil sensus 2010 merekam bahwa jumlah penduduk di kecamatan ini turun 0,12 persen. Penelusuran lebih jauh, diperoleh data bahwa berkurangnya jumlah penduduk di Kecamatan Kledung diakibatkan adanya mutasi keluar (transmigrasi).
     Hasil sensus penduduk 2010 terdapat 185.244 rumah tangga, artinya, setiap rumah tangga rata-rata terdiri dari 3,82 orang. Rata-rata jumlah anggota rumah tangga di setiap Kecamatan berkisar antara 3,59 sampai 4,09 orang. Sebanyak tujuh kecamatan memiliki rata-rata anggota keluarga dibawah rata-rata kabupaten. Kecamatan Bejen rata-rata jumlah anggota keluarga terendah 3,59 orang. “Rata-rata jumlah angota keluarga terbanyak di Kecamatan Tlogomulyo sekitar 4,09 orang per keluarga,” tambahnya ( Humas/Edy Laksono )

Berita Terkait